Penelitianyang dilakukan Eka Ariathi (2010) menunjukkan bahwa 1) penggunaanSor Singgih Basa Bali dalam proses komunikasi pada STT Darma Bhuana cukup baik, karena hanya digunakan pada acara tertentu saja, (2) faktor yang menyebabkan STT Darma Bhuana sulit menerapkan Sor Singgih Basa Bali adalah faktor eksternal dan faktor internal yang meliputi faktor biologis dari keadaan anggota dan faktor psikologis juga mempengaruhi apabila dalam tubuh dan pemikiran mereka terjadi suatu kendala, maka BahasaBali ini juga seringkali digunakan di beberapa wilayah lain, contohnya Nusa Tenggara Barat, Jawa Timur, dan Lampung. Tak hanya itu, masyarakat Kalimantan Tengah juga seringkali menggunakan Bahasa Bali. Hal ini lantaran mereka merupakan transmigran yang berasal dari Bali. JualProduk Tanaman Bougenville Ungu Termurah dan Terlengkap Oktober 2021 | Bukalapak. Bugenvil (Bougainvillea sp.) - Tanaman Hias Lanskap. Promo Bunga Bougenville 2 Warna - Kota Batu - bibit buah kemarin sore | Tokopedia. 12 Varietas Bugenvil yang Berwarna Cerah dan Tumbuh Rimbun. Bikin Adem dan Cantik Rumahmu PENJELASANSOR SINGGIH BASA BALI. Basa Bali Alus Singgih atau ASI adalah bahasa Bali yang digunakan ketika berbicara dengan orang yang kita hormati, kastanya lebih tinggi, memegang jabatan, orangtua, dan sebagainya. Berbicara mengenai kasta, di Bali terdapat banyak kasta atau lebih tepatnya "warna". Terlebihdengan adanya empat tingkatan bahasa lagi dalam Bahasa Bali Alus yaitu: Alus Sor, Alus Madia, Alus Mider, dan Alus Singgih. "Ini akan semakin membuat generasi muda enggan berbahasa Bali," ungkap Dewa Yogantara seorang guru Bahasa Bali dan pelestari budaya bali di Kabupaten Klungkung. Vay Nhanh Fast Money. ANGGAH UNGGUHING BASA BALIKEYWROD tingkatakan bahasa bali, pembagian bahasa bali, sor singgih bahasa bali, anggah ungguhin bahasa bali, belajar bahasa bali, melajah basa bali, learn balinese languageCONTETNT Halo pembaca sekalian,Pada artikel ini akan membahas sor singgih basa Bali atau pembagian bahasa Bali atau tingkatan bahasa Bali. Sor singgih atau anggah ungguhing basa Bali ada karena ketika berbicara akan melihat kedudukan lawan berbicaranya, apakah lawan berbicaranya seorang yang berkasta, memegang jabatan, dan TINGKATAN BAHASA BALIBasa Bali Alus Singgih atau ASIBasa Bali Alus Sor atau ASOBasa Bali Alus Mider atau AMIBasa Bali Alus Madia atau AMABasa Bali Kasar atau BKBasa Bali MiderPENJELASAN SOR SINGGIH BASA BALIBasa Bali Alus Singgih atau ASI adalah bahasa Bali yang digunakan ketika berbicara dengan orang yang kita hormati, kastanya lebih tinggi, memegang jabatan, orangtua, dan mengenai kasta, di Bali terdapat banyak kasta atau lebih tepatnya "warna". Baca Catur WarnaBasa Bali Alus Singgih tersusun atas kumpulan atau rangkaian kata yang termasuk kedalam jenis kata Alus Singgih atau Kruna Alus Singgih. Berikut beberapa contoh Kruna Alus Singgih dan artinya Merayunan yang berarti makan dalam bahasa yang berarti berbicara dalam bahasa yang berarti melihat dalam bahasa yang berarti mau atau ingin dalam bahasa yang berarti mandi dalam bahasa yang berarti tidur dalam bahasa yang berarti kasi atau beri dalam bahasa yang berarti baju dalam bahasa Kruna Alus Singgih Dan ContohnyaContoh penggunanann kata-kata Alus Singgih atau contoh kalimat Alus Singgih sebagai berikut Ida Ayu sampun Mesiram yang berarti Ida Ayu sudah Anak Agung Ngandika dibi sanje ring Bale Banjar yang berarti Ratu Anak Agung kemarin sore berbicara di Bale Byang ngicen putune Idane jinah satak tali yang berarti Ratu Byang memberikan cucunya uang dua ratus Gek kari makolem, jantos jebos nggih artinya Gung Gek lagi atau masih tidur, tunggu sebentar Bali Alus Sor atau ASO adalah bahasa Bali yang digunakan ketika berbicara untuk merendah atau humble, bahasa Bali Alus Sor teridiri atau tersusun atas Kruna Alus Sor. Mengapa merendahkan diri ? Karena kita hormat atau polite kepada lawan bicara kita seperti orang-orang "darah biru". Walaupun kita merendahkan diri atau humble bukan berarti lawan bicara kita bisa berbicara atau bersikap semana-mena, dan umumnya bila lawan bicara kita semena-mena maka akan ada perubaha penggunaan bahasa Bali dari Bahasa Bali Alus Sor menjadi Bahasa Bali Kasar Jabag hingga Bahasa Bali Kasar Pisan yang isinya dapat berupa makian dan sumpah serapah. Baca Bahasa Bali KasarBerikut contoh Kruna Alus Sor dan artinya Atur yang berarti berbicara dalam bahasa yang berarti saya dalam bahasa yang berarti makan umumnya untuk binatang dalam bahasa yang berarti memberikan dalam bahasa yang berarti baju dalam bahasa Kruna Alus Sor dan ContohnyaContoh Kalimat Alus Sor Yening dados titiang matur-atur yang berarti Jika boleh saya wau nge-wehin bawine nedea yang berarti Saya baru memberikan babinya semetonne soang-soang genah yang berarti berikan / persilahan saudara tamu nya Bali Alus Mider adalah bahasa Bali yang digunakan ketika berbicara tanpa memandang kasta dan sebagainya atau dapat dibilang bahasa yang dapat digunakan oleh semua kalangan dan bahasa Bali Alus Mider merupakan bahasa Bali yang paling sering bahasa Bali yanglainnya bahasa Bali Alus Mider tersusun atas kata-kata atau Kruna Alus Mider dan berkut contoh Kruna Alus Mider Rauh yang berarti datang dalam bahasa yang berarti membeli dalam bahasa yang berarti uang dalam bahasa yang berarti pulang dalam bahasa yang berarti kabar atau berita dalam bahasa Kruna Alus Mider dan ContohnyaContoh Kalimat Alus Mider Yee bli Wayan, kalinapi rauh bli ? yang berarti Yee kakak atau abang Wayan, kapan datangnya ?Luh Ayu napi ke ragan adine katumbas ? yang berarti Luh Ayu kamu beli apa ?Wenten napi gus, jinah e kirang ? yang berarti Ada apa gus, uangnya kurang ?Basa Bali Alus Madia adalah bahasa Bali yang tingkatannya ditengah-tegah dan biasanya merupakan penggalan suku kata yang dapat merepresentasikan kata tersebut dalam kondisi untuh. Bahasa Bali Alus Madia biasanya tercampur dengan beberapa kata-kata Alus SInggih dan Kasar atau Kruna Alus Madia Ten nenten yang berarti sampun yang berarti titiang yang berarti yang berarti yang berarti Kruna ALus Madia dan ContohnyaContoh Kalimat Alus Madia Tiang sampun ngajeng yang berarti Saya sudah madue jinah e puniki yang berarti Siapa yang punya uang mawinan RAtu sungkan yang berarti itu penyebab Atu Bali Kasar adalah bahasa Bali yang dapat digunakan jika sudah akrab dan umumnya digunakan untuk mencaci Bali Kasar dapat dibedakan menjadi dua yaitu Basa Bali Kasar Andap dan Bahasa Bali Kasar Bali Kasar Andap adalah Bahasa Bali yang dapat digunaan untuk bebicara dengan lawan bicara yang sudah Bali Kasar Kesamen adalah Bahasa Bali umumnya digunakan untuk bersumpah Kruna Basa Andap Madaar yang berarti yang berarti yang berarti yang berarti yang berarti pergi,Baca Kruna Basa Andap dan ContohnyaContoh Kalimat Basa Andap Medaar ape malu yang memiliki arti Makan apa ngomong deen sing lakar peragat ape gaene yang berarti Kalau bicara aja tidak akan selesai apa mani abe tuak e yang berarti Inget besok bawa tere teke nah yang berarti Awas tidak datang ibane lengeh yang berarti Pergi sana Kruna Basa Kesamen Teraskeleng yang berarti kepala kont* Bali Mider adalah bahasa Bali yang tidak ada artinya di Bahasa Bali Alus dan dapat digunakan untuk berbicara kepada siapa Kruna Basa Mider Nyongkok berarti yang berarti yang berarti yang berarti ikhlas, rela, tidak pelit, dan yang berarti pesan atau Kruna Basa Mider dan ContohnyaContoh kalimat Bahasa Mider Ngude nyongkok di buce artinya kenapa jongkok di kije deen awaiyan yang berarti Ayah kemana aja angkid malu nasine yang berarti Luh, angkat dulu SelanjutnyaBelajar Bahasa Bali PengenalanBelajar Bahasa Bali Pembagian Bahasa Bali Soroh Bahasa Bali Sor Singgih Bahasa BaliBelajar Bahasa Bali Bahasa Bali Lumrah Bahasa Bali MiderBelajar Bahasa Bali Bagian Tubuh Dalam Bahasa BaliBelajar Bahasa Bali Struktur Keluarga Dalam Bahasa BaliBelajar Bahasa Bali Struktur Masyarakat Dalam Bahasa BaliBelajar Bahasa Bali Struktur Sekolah Dalam Bahasa BaliBelajar Bahasa Bali Bahasa Bali Sehari-hariBelajar Bahasa Bali Kruna Wangsan KrunaPenutup Saya mohon maaf jika ada kesalahan dalam artikel ini dan bilamana pembaca sekalian berkenan untuk memberian kritik dan saran saya sangat dan saran dapat disampaikan melalui kolom komentar dan telah berkunjung dan berkenan membaca ~~ Sor Singgih Basa Bali sebaiknya diketahui bagi orang yang ingin belajar Belajar Basa Bali bahasa Bali. Sor Singgih Basa Bali ini merupakan sebuah aturan penggunaan kata kruna dalam Bahasa Bali tergantung siapa yang diajak bicara atau dimana kata/kalimat itu disampaikan. Bahasa Bali memang memiliki bahasa halus dan kasar, seperti daerah lainnya, ditambah lagi Bahasa Bali memiliki Sor Singgih. Berdasarkan berbagai sumber, berikut ini 7 jenis atau tingkatan sebuah kata kruna dalam Basa bahasa Bali yaitu Basa Alus SinggihBasa Alus MadiaBasa Alus SorBasa Alus MiderBasa MiderBasa Andap/KeparaBasa Kasar Berikut ini penjelasan sederhana tentang masing-masing jenis/tingkatan Bahasa Bali terkait dengan Sor Singgih Basa Bali. Basa Alus Singgih. Merupakan penggunaan kata halus yang dipakai saat berbicara dengan orang yang lebih dihormati, misalnya orang suci, pejabat, orang yang dituakan dan lainnya. Penggunaan kata ini tujuannya adalah untuk menghormati orang atau lawan bicara tersebut. Contohnya Galah sampun wengi, Ida sampun mekolem. Mekolem artinya tidur, merupakan contoh kata alus singgih yaitu untuk meninggikan/menghormati orang yang disebut sudah tidur tersebut. Bisa juga menggunakan kata merem yang juga Alus Singgih. Kata lain untuk tidur adalah sirep, pules, medem, ngerayunang dumun. Ngerayunang artinya makan, kata lain untuk makan adalah ngajeng, nunas, neda, ngamah, nidik. Basa Alus Madia. Merupakan penggunaan kata halus yang sedang saja, bisa dipakai untuk merujuk diri sendiri ataupun orang yang dihormati. Contohnya Sira punika sane rauh?Titiang sampun suwe nyantos iriki. Basa Alus Sor. Merupakan penggunaan kata halus yang digunakan untuk merendah, terutama ketika berbicara dengan orang yang dihormati, maksudnya kata disini adalah kata yang merujuk kepada diri sendiri orang yang bicara. Contohnya Ida sampun ngerayunang, titiang taler sampun nunas. Kata ngerayunang dan nunas artinya sama yaitu makan, tetapi ketika menyebut diri sendiri titiang, orang yang bicara menggunakan kata nunas dengan maksud idane sampun neda, kuluk tiange sampun ngamah. Asu dan kuluk artinya sama yaitu anjing. Neda merupakan Alus Singgih karena menyebut anjing orang yang miragi orti rahina dibi, Ida mirengang orti? Miragi dan mirengang artinya sama yaitu mendengar. Basa Alus Mider. Merupakan kata yang memiliki rasa yang sama ketika digunakan untuk orang yang dihormati ataupun sebaliknya. Misalnya numbas membeli, sampun sudah, durung belum, lali lupa. Basa Mider. Merupakan kata yang tidak memiliki padanan kata dalam tingkatan halus ataupun kasar, jadi tidak ada bentuk halus ataupun kasarnya sehingga bisa digunakan dalam semua tingkatan. Contoh dija dimana, kija kemana. Basa Andap/Kepara. Merupakan kata merupakan kata yang andap endep artinya rendah yaitu kata yang tidak halus tapi tidak terlalu kasar. Misalnya suba sudah, jani sekarang, pidan dulu. Basa Kasar. Sesuai namanya merupakan kata bahasa kasar. Demikian penjelasan tentang Sor Singgih Basa Bali yang sebaiknya diketahui untuk anda yang ingin sedikit memperdalam Bahasa Bali. Sebagai catatan penulis bukan merupakan ahli bahasa ataupun sastra Bali, ringkatan di atas merupakan rangkuman dari berbagai sumber serta pengalaman penulis sejak kecil sebagai orang Bali serta pengalaman sehari-hari. Namun dalam sehari-hari menurut pengalaman menulis yang perlu anda perhatikan sebenarnya ada dua hal yaitu Halus dan kasar. Yang pertama adalah anda harus bisa membedakan apakah sebuah kata sudah halus atau kasar. Dalam percakapan dengan orang yang dihormati atau orang yang baru dikenal, berusaha saja menggunakan pilihan kata halus, walaupun mungkin masih salam penempatan Alus Sor dan Alus Singgih namun akan lebih Sor dan Alus Singgih. Yang kedua jika sudah bisa membedakan kata halus dan kasar, barulah kemudian mencoba memilah antara Alus Sor dan Alus Singgih sehingga tidak salah dalam menempatkan atau menggunakan kata terutama saat berbicara dengan orang yang dihormati, apalagi jika berbicara di depan umum. Semoga bermanfaat. Mohon kritik dan saran jika ada yang salah dalam artikel ini. Mohon support WEB Sastra Bali dengan mensubscribe channel youtube ORGANIC MINDAnggah-ungguhing basa Bali adalah istilah untuk tingkatan-tingkatan bahasa dalam bahasa Bali, yang pemakaiannya telah diresmikan dalam Pesamuhan Agung Loka Karya Bahasa Bali III tahun 1974 di Singaraja. Sebelumnya ada beberapa istilah untuk menyebutkan tingkatan-tingkatan bahasa dalam bahasa Bali, antara lain Masor Singgih atau Sor Singgih Basa, Kasar-Alus, Undag-undagan Basa, dan Warna-warna Bahasa Suasta 14. Dari beberapa istilah trsebut, yang paling sering kita dengarkan dan sering diucapkan masyarakat suku Bali sampai sekarang adalah Sor Singgih Basa. Berdasarkan tatacara pembentukan anggah-ungguhing basa Bali, maka yang paling mendasar untuk dipahami dalam ussaha meningkatkan kemampuan berbicara dengan bahasa Bali adalah perbedaan rasa bahasa kata-kata bahasa Bali. Berdasarkan rasa bahasanya kata-kata bahasa Bali dapat dibedakan menjadi empat, yaitu 1 kata alus; 2 kata mider; 3 kata andap; dan 4 kata kasar. A. KATA ALUS Kruna Alus Kata alus Kruna alus berdasarkan rasa bahasanya dapat dibedakan juga menjadi empat, yaitu a kata alus singgih; b kata alus madia; c kata alus mider; dan d kata alus sor. a Kata Alus Singgih Kata Alus Singgih adalah kata alus yang pada umumnya digunakan untuk menghormati seseorang yang patut dihormati. Contohnya 1. séda, lebar, lina meninggal’ Ida Peranda sampun séda/lebar/lina. 2. ngandika berbicara’ Titiang nunas mangda i ratu dumunan ngandika. 3. mobot hamil’ Rabinida mangkiin sampun mobot 4. ngaksi, nyuryanin melihat’ Ida sané polih ngaksi paksi ring taman. 5. makolem tidur’ Ajinida kantun makolem ring gedong. 6. ica tertawa’ Ida makasami ica mirengang aturipun. 7. sungkan sakit’ Ida kantun sungkan. 8. maputra punya anak’ Arinida ring Jawi mangkin sampun maputra. 9. marayunan makan’ Ida kantun marrayunan ring perantenan. 10. mabaos berbicara’ Ida mangda polih mabaos dumun, wawu budal, dst. b Kata Alus Madia Kata Alus Madia adalah kata alus yang rasa bahasanya madia menengah, yang pada umumnya digunakan dalam berbicara pada seseorang yang belum dikenal, pada seseorang yang hubungan keakrabannya belum begitu akrab. Kata alus madia berdasarkan bentuk dan rasa bahasanya dapat dibedakan menjadi dua, yaitu 1 Kata alus madia yang memang rasa bahasanya alus madia. Contohnya kepala’ Sirah tiangé sakit ibi sanja. tidur’ I Mémé kari sirep di baléné. makan’ I Bapa ngajeng biu malablab, dst. 2 Kata alus madia yang berasal dari kependekan bentuk alus yang lainnya. Contohnya 1. ten tidak’ -> kependekan dari kata nénten Tiang ten maan kema. 2. tiang saya’ -> kependekan dari kata titiang Tiang ten polih merika. 3. ampun sudah’ -> kependekan dari kata sampun Tiang ampun polih jinah. 4. nika itu’ -> kependekan dari kata punika Tiang nika sané ngambil. 5. niki ini’ -> kependekan dari kata puniki Baju niki ané anggona. 6. sira siapa’ -> kependekan dari kata sapasira Sira sané ngambil ayamé?. 7. napi apa’ -> kependekan dari kata sapunapi Napi sané ngutgut jajané?, dst. c Kata Alus Mider Adalah kata alus yang dapat digunakan untuk menghormati seseorang yang patut dihormati, dan dapat pula digunakan untuk merendahkan orang yang patut direndahkan. Berdasarkan hal ini, maka kata alus mider memiliki tiga ciri, yaitu dapat digunakan untuk menghormati, dapat digunakan untuk merendahkan diri, dan memiliki rasa bahasa andap dalam bentuk kata lainnya Suasta26. Perlu diperhatikan bahwa, stiap kata kruna dalam bahasa Bali ada yang memiliki bahasa alus padanan kata lebih dari satu dan ada juga yang tidak memiliki bahasa alus padanan. Kata dalam bahasa Bali yang hanya memiliki satu padanan kata alus, maka kata alus tersebut disebut kata alus mider, sedangkan kata yang netral atau tidak memiliki bahasa alus maupun kasar disebut kata mider kruna mider. Contohnya 1. éling ingat’ Ida kantun éling ring titiang, ipun naler éling. 2. sareng turut’ Ida sareng maboros, ipun taler sareng. 3. rauh datang’ Ratu rauh meriki jagi tangkil, titiang rauh meriki naler jagi tangkil. 4. malih lagi’ Bénjang ipun jagi nunas malih, i ratu pacang mapaica malih?. 5. polih dapat’ Titiang polih nyingakin paksiné ring taman, i ratu polih ngaksinin?. 6. pacang akan’ Biang i ratu pacang lunga ka pasar, pacang kairing antuk ipun. 7. lali lupa’ Ipun sampun lali, i ratu sampunang lali. 8. sampun sudah’ Titiang sampun uning, Ida Gusti Patih taler sampun uning. 9. durung belum’ Rakan i ratu durung rauh, naler ipun parekané durung. 10. gelis cepat’ Ida mamargi gelis ka purian, titiang gelis ngambilang wastranidané. d Kata Alus Sor Adalah kata alus yang dapat digunakan untuk merendahkan diri dan merendahkan seseorang yang patut direndahkan keandapang. Contohnya 1. mawasta bernama’ Titiang mawasta I Bodo. 2. maurip hidup’ Amonto sakit ipun, rauh mangkin I Nengah kantun maurip. 3. miragi mendengar’ Titiang sampun miragi ortiné punika. 4. neda makan’ Asunidané sampun neda sanganan. 5. néwék sendiri’ Titiang rauh meriki néwék. 6. nunas minta’ Ipun rahina bénjang pacang nunas ka puri. 7. mapajar berkata’ Bapan titiang mapajar asapunika. 8. buntut kaki’ Buntut titiangé semutan kantos ngejer. 9. padem meninggal’ Mémén ipun sampun padem. 10. ngwehin memberi’ Dadong titiangé ngewehin jinah iwawu. 11. titiang saya’ titiang matur sisip ratu. B. KATA MIDER Kruna Mider Kata mider adalah kata yang rasa bahasanya netral. Maksudnya kata-kata mider tidak memiliki rasa bahasa yang berbeda, sehingga dalam pemakaiannya tidak memiliki bentuk yang lain Suasta 31. Kata mider dalam pemakaiannya bisa digunakan untuk berbicara dengan orang yang memang patut dihormati, orang yang lebih tua, orang yang tak dikenal, maupun pada orang yang lebih rendah jaba/kawula. Kata mider ini hanya memiliki satu bentuk saja, tanpa memiliki padanan alus maupun kasar, sehingga penggunaannya bisa saya katakan manasuka pada siapa pun bisa diucapkan. Contohnya 1. gulem mendung’ Gulemé nyansan tebel ring langité tegeh. 2. kaang karang’ Ring segara makéh wénten kaang, tongos mengkeb béné ané cenik-cenik. 3. kambing kambing’ Reraman titiangé sané miara kambingé. 4. ngejer gemetar’ Preraganidané kantos ngejer duké sabehan ring margi. 5. kija kemana’ I Ratu mangkin jagi lunga kija?. 6. dija dimana’ Dija wénten balih-balihan dibi sandé?. 7. bunter bulat’ Pulung-pulung punika kirangan bunter. 8. gilik bulat panjang’ Kantos gilik katik jatahé antuk ida ngerotin. 9. nyongkok jongkok’ Ida Peranda nyongkok ring bataran gedongé. 10. ngepung mengejar’ Ida kantun ngepung ayam. 11. tembok tembok’ Tembok gedong idané kantun macét. 12. payuk periuk’ Sira ngambil payuké ring pwaregan?. 13. bulu bulu’ Duagung Gde ngarsayang bulun ayam. 14. manas nanas’, kangkung, bluluk kolang-kaling’ Ida Duagung Biang ka pasar numbas manas, kangkung, lan bluluk. 15. ender kejar’, katanjung tersandung’ Gung Alit cokornyané katanjung daweg ngender layangan ring alun-alun dst. C. KATA ANDAP Kruna Andap Kata andap adalah yang memiliki nilai rasa bahasa biasa, tidak kasar, dan juga tidak halus. Apabila rasa bahasa kata andap dipertentangkan dengan rasa bahasa kata alus, maka rasa bahasa kata andap adalah dalam tinggkatan rasa bahasa rendah. Kata andap digunakan dalam berbicara antar seseorang yang telah akrab, yang bersifat kekeluargaan antara sesama wangsa, dan juga apabila golongan atas berbicara dengan golongan bawah. Kata andap juga disebut dengan istilah kata kasar sopan atau kata lepas hormat Suasta 34. Contohnya 1. apa Apa aliha I Nyoman mameteng di teba? 2. suba sudah’ Bapa jani suba maan meli uyah. 3. pipis uang’ Meme ngelah pipis duang tali rupiah. 4. baas beras’ Ene baas ane adepa di warung. 5. tonden belum’ Dugas dibi tiang tonden maan singgah ka Denpasar. 6. kedis burung’ Kedis ane di gedonge belina di peken Satria kin I Bapa. 7. batis kaki’ Batis I Kadeke katanjung di puan di kayehan. 8. bok rambut’ Gung Joni mabok gempel. 9. bedak haus’ Bibihe bedak sajan uli tuni. 10. lima tangan’ Limane matatu dugase ngarit dibi. 11. panak anak’ Men Dana ngelah panak dadua. 12. nasi Dija I Made meli nasi? 13. pula tanam’ Bunga sandate kisidang pula di sanggah. 14. gedeg marah’ Bli Kadek sebengne angus, mirib ulian gedeg basangne. 15. tendas kepala’ I Ketut tunian nimpug tendas cicinge baan batu. 16. nyuh kelapa’ Di tegale liu ada nyuh suba wayah. 17. ene ini’ Ene mula pragina ane paling bauda. 18. ento itu’ Ane ngajahin di sekolah, ento madan guru. 19. aba bawa’ Yen cai lakar mulih, ingetang aba laware. 20. idih minta’ Wayan ngelah uyah? Idih abedik lakar anggon nyangin jukut. D. KATA KASAR Kruna Kasar Kata kasar adalah kata yang rasa bahasanya kasar. Kata-kata kasar digunakan terutama dalam keadaan atau kondisi marah atau jengkel, sehingga sering digunakan dalam bertengkar, dalam bercacimaki Suasta 36. Namun belakangan ini kata-kata kasar juga sering digunakan diluar konteks bertengkar, seperti saat bercanda dan terkejut. Saat bercanda, penutur akan melihat lawan bicaranya sebelum bercanda menggunakan bahasa kasar, biasanya penutur telah memiliki hubungan yang dekat/akrab. Contohnya 1. pantet makan’ Mantet dogenan gaen ibane, sing ja seleg magae. 2. tidik makan’ Apa kar tidik nyai kemu? nganten ka umah jelema lacur. 3. segseg makan’ To suba segseg telahang, pang kanti puntedan batukayane. 4. bangka mati’ Bangka iba jani, wake sing peduli teken cai. 5. cai/ci kamu’ Cai jelema jele goba jele hati. 6. Cang saya’ Cang orahang ci jejeh? da mangid bungute mapeta nah. 7. mamelud tidur’ Bangunang iban caine, pragat mamelud dogen. 8. Iba kamu’ Leak iba, dadi wake dengenga? 9. nani kamu’ Nyebak bungut nanine dini, magedi nani ling jumah kolone. 10. sin keleng umpatan tabu, dll. Contoh di atas saya sajikan sedemikian rupa, bukan berarti saya mengajak pembaca semua untuk berkata-kata kasar. Marilah mencermani kasanah bahasa Bali dengan bijak, karena ini merupakan salah satu kekayaan budaya Bali. Walaupun ada pembagian kata-kata bahasa Bali berdasarkan rasa bahasanya, tidaklah berarti semua kata-kata dalam bahasa Bali memiliki rasa bahasa yang lengkap. Contohnya kata cunguh hidung’ memiliki alus singgih ungasan dan irung, namun tidak memiliki rasa bahasa alus sor, alus madia, maupun alus mider. Kata newek sendiri’ tidak memiliki rasa bahasa alus singgih, alus madia, maupun alus mider. Ia hanya memiliki rasa bahasa andap yaitu padidi. Hal inilah yang menyebabkan komunikasi dengan bahasa Bali sepertinya terganggu. Namun apabila telah memahami betul rasa bahasa Bali, maka gangguan yang dirasakan akan dapat dihilangkan, sebagaimana contoh-contoh pemakaian masing-masing yang disajikan di depan. Tampak benar pleksibelitas pemakaian kata-katanya sesuai dengan keadaan rasa bahasa yang dimiliki. Untuk merasakan rasa bahasa yang baik dan benar dalam suatu komunikasi, memang memerlukan latihan-latihan yang lebih sering. Dengan seringnya latihan maupun mendengar, maka rasa bahasa yang semula belum dirasakan perbedaan rasa bahasanya, secara berangsur-angsur akan dapat dirasakan. ~ Article view [23851]

sor singgih basa bali dan contohnya